loading...
Dalam lembaran awal ekspansi Islam, nama Khalid bin Walid mencuat sebagai sosok jenderal yang disegani kawan maupun lawan. Khalid bin Walid (592–642 M) juga dijuluki Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus) oleh Nabi Muhammad SAW. Foto ilustrasi
Populernya Selat Hormuz saat perang AS-Israel dengan Iran, akhir-akhir ini banyak dikaitkan dengan Khalid Bin Walid , panglima perang Islam legendaris yang tak pernah kalah. Benarkah nama Selat Hormuz ini ada kaitannya dengan Khalid Bin Walid? Simak ulasannya berikut ini.
Dalam lembaran awal ekspansi Islam, nama Khalid bin Walid mencuat sebagai sosok jenderal yang disegani kawan maupun lawan. Khalid bin Walid (592–642 M) juga dijuluki Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus) oleh Nabi Muhammad SAW.
Dan, salah satu episode penting yang kerap dikaitkan dengan “Hormuz” terjadi bukan di Selat Hormuz (sekarang sangat terkenal di tengah kancah peperangan AS-Israel dengan Iran ) itu, melainkan di daratan Irak, saat berhadapan dengan seorang petinggi militer Persia bernama Hormuz.
Duel Penentu Khalid vs Hormuz di Pertempuran Rantai
Peristiwa ini berlangsung sekitar tahun 633 M dalam sebuah pertempuran yang dikenal sebagai Battle of the Chains (Pertempuran Rantai). Saat itu, Kekaisaran Sasaniyah mengerahkan pasukan di bawah komando Hormuz untuk menghadang laju pasukan Muslim.
Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Khattab yang Ingin Mati Syahid dan Doa-doanya
Dalam gaya perang klasik, duel satu lawan satu menjadi pembuka. Khalid bin Walid maju menghadapi Hormuz. Pertarungan berlangsung sengit, namun berakhir cepat—Khalid berhasil menewaskan lawannya. Kematian sang komandan membuat barisan Persia goyah, hingga akhirnya pasukan mereka dipukul mundur.
Pertempuran ini disebut “Rantai” karena sebagian pasukan Persia dikabarkan dirantai satu sama lain untuk mencegah mundur. Namun strategi itu justru menjadi bumerang ketika barisan mereka kacau.
Pintu Masuk ke Jantung Persia
Kemenangan atas Hormuz menjadi titik awal keberhasilan besar pasukan Muslim di wilayah Irak. Kota-kota penting mulai jatuh, membuka jalan menuju jantung kekuasaan Persia.
Nama Khalid bin Walid pun semakin dikenal sebagai ahli strategi yang sulit dikalahkan. Keberhasilannya di Irak menjadi fondasi bagi runtuhnya dominasi Sasaniyah di kawasan tersebut.
Hormuz: Nama yang Sering Disalahpahami
Perlu diluruskan, “Hormuz” dalam kisah ini adalah nama seorang panglima Persia, bukan merujuk pada Selat Hormuz yang kini dikenal sebagai jalur vital perdagangan dunia.
Selat Hormuz sendiri baru menjadi pusat perhatian global berabad-abad kemudian, saat jalur perdagangan laut antara Timur dan Barat berkembang pesat.
Catatan Sejarah
Kisah pertemuan antara Khalid bin Walid dan Hormuz menunjukkan bagaimana satu duel bisa mengubah arah peperangan. Dari sebuah pertempuran di padang pasir Irak, sejarah bergerak cepat menuju perubahan besar di kawasan Persia dan sekitarnya.
Di sinilah, nama Khalid bin Walid tak sekadar tercatat sebagai panglima, tetapi sebagai simbol kecepatan, ketegasan, dan kemenangan dalam fase awal sejarah Islam. Ia brilian dalam strategi militer, memimpin penaklukan Suriah dan Irak, serta berperan penting dalam Perang Ridda.
Baca juga: 6 Alasan Negara-negara Arab Diam-diam Bujuk AS Gelar Invasi Darat ke Iran
(wid)


















































