Kesejahteraan Guru Bukan Beban Anggaran, Melainkan Investasi Ekonomi

1 day ago 12

loading...

Faozan Amar, AssociateProfessor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA. Foto/Dok. SindoNews

Faozan Amar
AssociateProfessor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA

DI TENGAH perdebatan soal efektivitas belanja negara, satu pos anggaran kerap dipandang sebagai beban rutin: kesejahteraan guru. Padahal, di balik tunjangan dan insentif yang diterima para pendidik, tersimpan dampak ekonomi yang tidak kecil, mulai dari penguatan daya beli, peningkatan produktivitas pendidikan, hingga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Figur yang paling berpengaruh dalam kehidupan seseorang, selain orang tua, guru menempati posisi yang sangat menentukan. Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nilai, dan cara berpikir generasi muda. Karena itu, dalam budaya Indonesia dikenal ungkapan guru digugu dan ditiru, ucapannya dipercaya dan perilakunya dijadikan teladan.

Namun, idealisme tersebut kerap berhadapan dengan realitas ekonomi. Tidak sedikit guru yang masih bergulat dengan persoalan kesejahteraan. Dalam perspektif ekonomi pendidikan, kondisi ini bukan semata persoalan sosial, melainkan faktor struktural yang memengaruhi kualitas pembelajaran dan pembangunan sumber daya manusia. UNESCO (2021) menegaskan bahwa kualitas sistem pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah melampaui kualitas dan kesejahteraan gurunya.

Persoalan kesejahteraan guru juga berdampak pada regenerasi profesi. Narasi tentang guru yang hidup pas-pasan membuat profesi ini kian kurang diminati generasi muda.

Penelitian Yohana Setyani dan Fahrur Rozi (2025) menunjukkan bahwa kesejahteraan guru berpengaruh sebesar 6,66% terhadap minat memilih profesi guru. Temuan ini sejalan dengan studi Dolton dan Marcenaro-Gutierrez (2011) yang menyebutkan bahwa tingkat remunerasi guru berhubungan erat dengan pasokan guru berkualitas dalam jangka panjang.

Read Entire Article
Prestasi | | | |