Mengapa Islamabad Gagal Menjembatani Dua Dunia?

4 hours ago 9

loading...

Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan Al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).

PADA Minggu pagi (12 April 2026), Hotel Serena Islamabad menjadi saksi kegagalan perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang dimediasi Pakistan. Wapres AS JD Vance menyatakan “Pembicaraan damai dengan Iran sejauh ini belum mencapai kesepakatan”.

Persoalan utama yang kontradiktif adalah masalah kepemilikan nuklir. Vance menambahkan “Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mendapatkan senjata nuklir dan tidak berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka dengan cepat memperoleh senjata nuklir”.

Iran menyahuti bahwa pembicaraan damai berlangsung dalam “atmosfir ketidakpercayaan”. Washington perlu memutuskan “apakah akan mendapatkan kepercayaan kami atau tidak”. Kedua belah pihak saling menyalahkan dan berujung tidak ada kesepakatan.

Dengan kebuntuan negosiasi diplomatik tersebut, ada ironi yang getir setelah 21 jam berlangsungnya negosiasi yang melelahkan. Amerika Serikat dan Iran, akhirnya, keluar dari ruangan yang sama tanpa kesepakatan. Yang tersisa hanyalah kata “deadlock”, yang telah lama mengendap dalam sejarah relasi keduanya.

Kegagalan ini bukan sekadar soal teknis negosiasi. Ia adalah cermin dari dua cara pandang dunia yang tidak pernah benar-benar bertemu dan saling menyapa. Tulisan ini akan mengulik beberapa faktor mengapa negosiasi diplomatik tersebut tidak mencapai kesepakatan seperti yang diharapkan.

Pertama, deadlock terjadi karena tuntutan masing-masing pihak yang terlalu kontradiktif (bertentangan). Amerika Serikat datang dengan garis merah bahwa Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya secara permanen. Di sisi lain, Iran menolak tunduk pada tuntutan tersebut, dan justru menuntut hak pengayaan uranium, pencabutan sanksi, serta kompensasi perang. Di sini, diplomasi berubah menjadi arena penegasan kedaulatan.

Read Entire Article
Prestasi | | | |