Regulator Mundur, IHSG Tersungkur: Ketika Krisis Kepercayaan Menghantam Pasar Modal

1 day ago 9

loading...

Listya Endang Artiani, Ekonom Universitas Islam Indonesia. Foto: Ist

Listya Endang Artiani
Ekonom Universitas Islam Indonesia

PASAR saham bukan sekadar arena angka, melainkan arena kepercayaan. Harga bergerak bukan hanya oleh laba perusahaan, tetapi oleh keyakinan bahwa aturan main ditegakkan secara konsisten.

Karena itu, ketika sejumlah pejabat puncak di Otoritas Jasa Keuangan(OJK) dan Bursa Efek Indonesia(BEI) mengundurkan diri hampir bersamaan di tengah tekanan bursa, pasar merespons dengan bahasa yang paling lugas: aksi jual.

Pada hari perdagangan pertama Februari, Senin 2 Februari 2026, lonceng pembukaan bahkan belum genap satu jam ketika tekanan melebar di hampir seluruh sektor, layar perdagangan memerah, antrean jual menebal, dan Indeks Harga Saham Gabungan(IHSG) terperosok sekitar 4,88 persen menjadi 7.910,20 pada penutupan perdagangan pukul 15.50 WIB.

Penurunan tajam itu bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan penanda psikologis bahwa kepercayaan sedang runtuh. Peristiwa ini, dengan demikian, lebih tepat dibaca bukan sebagai koreksi teknikal biasa, melainkan refleksi dari krisis kepercayaan institusional.

Data beberapa hari sebelumnya menunjukkan kapitalisasi pasar tergerus hingga puluhan miliar dolar AS dan arus dana asing bergerak keluar signifikan. Pada saat yang sama, penyedia indeks global MSCI memberi peringatan mengenai aspek transparansi dan tata kelola, dengan risiko penurunan klasifikasi pasar bila perbaikan tak segera dilakukan. Kombinasi tekanan eksternal dan guncangan internal regulator membentuk apa yang dalam literatur keuangan disebut confidence shock yaitu kejutan ekspektasi yang memukul pasar lebih keras daripada perubahan fundamental ekonomi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |