Sulit Buang Barang? Mari Mengenal Hoarding Disorder Lebih Dekat

6 hours ago 7

ringkasan

  • Hoarding disorder adalah gangguan mental yang ditandai kesulitan ekstrem membuang barang, menyebabkan penumpukan signifikan dan mengganggu fungsi hidup sehari-hari.
  • Penyebabnya multifaktorial, melibatkan genetik, trauma, gangguan mental lain, serta dapat menimbulkan risiko fisik, kesehatan, mental, dan sosial yang serius.
  • Diagnosis dilakukan profesional kesehatan mental menggunakan kriteria DSM-5, dengan Terapi Perilaku Kognitif (CBT) sebagai penanganan utama dibantu obat dan dukungan sosial.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda merasa sangat sulit membuang barang, bahkan yang sudah tidak terpakai? Kondisi ini bisa jadi lebih dari sekadar kebiasaan menimbun biasa. Mari mengenal hoarding disorder, sebuah gangguan kesehatan mental yang seringkali disalahpahami oleh banyak orang.

Hoarding disorder ditandai dengan kesulitan persisten untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilai aktualnya. Akumulasi barang yang signifikan ini pada akhirnya mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, membuat ruang hidup menjadi penuh sesak dan tidak teratur.

Berbeda dengan sekadar mengoleksi, hoarding disorder menyebabkan penumpukan yang signifikan sehingga ruangan tidak dapat digunakan sesuai fungsinya. Penting untuk memahami perbedaan ini agar kita bisa memberikan dukungan yang tepat bagi mereka yang mungkin mengalaminya.

Apa Itu Hoarding Disorder dan Bedanya dengan Koleksi Biasa?

Hoarding disorder adalah kondisi mental di mana seseorang memiliki kesulitan ekstrem untuk membuang barang, bahkan yang tidak memiliki nilai nyata. Perasaan cemas, marah, atau panik sering muncul saat mencoba membuang barang-barang tersebut. Penderita seringkali percaya bahwa barang-barang itu akan berguna di masa depan atau memiliki nilai sentimental yang kuat.

Akumulasi barang yang berlebihan ini membuat ruang hidup menjadi penuh sesak dan tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Misalnya, tempat tidur mungkin tertutup barang atau dapur tidak bisa dipakai untuk memasak. Kondisi ini jauh berbeda dengan hobi mengoleksi yang biasanya terorganisir dan terencana.

Gejala hoarding disorder bisa sangat bervariasi, mulai dari kesulitan membuat keputusan hingga kecenderungan untuk terus mencari atau membeli benda baru. Penderita juga sering merasa tertekan jika barang miliknya disentuh orang lain, yang dapat menyebabkan isolasi sosial. Masalah kognitif seperti keraguan dan penundaan juga sering menyertai gangguan ini.

Mengungkap Penyebab dan Dampak Hoarding Disorder

Penyebab pasti hoarding disorder belum sepenuhnya diketahui, namun beberapa faktor risiko telah teridentifikasi. Faktor genetik, pengalaman traumatis seperti kehilangan orang terkasih, serta gangguan mental lain seperti depresi atau OCD, seringkali berkaitan dengan kondisi ini. Diduga ada gangguan pada bagian otak yang mengatur fungsi emosional dan kognitif, mempengaruhi kemampuan mengambil keputusan.

Lingkungan masa kecil yang tidak mengajarkan cara memilah barang atau pengalaman kesulitan ekonomi juga dapat memicu perilaku menimbun. Kondisi ini dapat dimulai sejak usia 11-15 tahun dan cenderung memburuk seiring bertambahnya usia, menjadi lebih sulit diobati pada paruh baya.

Dampak hoarding disorder sangat serius jika tidak ditangani. Risiko fisik seperti terjatuh, terjebak, atau bahaya kebakaran meningkat drastis. Rumah yang kotor juga menjadi sarang kuman, meningkatkan risiko infeksi dan masalah pernapasan. Secara mental, penderita dapat mengalami stres, depresi, rasa malu, dan isolasi sosial. Konflik keluarga dan masalah finansial akibat pembelian impulsif juga sering terjadi.

Diagnosis dan Penanganan Efektif untuk Mengenal Hoarding Disorder

Diagnosis hoarding disorder dilakukan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5). Kriteria utama meliputi kesulitan persisten membuang barang, akumulasi kekacauan yang mengganggu fungsi area hidup, dan penderitaan signifikan yang ditimbulkan. Penting untuk membedakannya dari kebiasaan berantakan biasa atau kondisi medis lain.

Penanganan utama untuk hoarding disorder adalah Terapi Perilaku Kognitif (CBT). Terapi ini membantu penderita mengidentifikasi dan mengubah pola pikir terkait menimbun, mengembangkan keterampilan mengatur barang, dan mengatasi kecemasan saat membuang. Terapis atau penata profesional bahkan dapat melakukan kunjungan ke rumah untuk membantu merapikan secara rutin.

Selain CBT, obat antidepresan seperti SSRI dapat diresepkan untuk mengatasi gejala depresi atau kecemasan yang menyertai. Dukungan sosial dari keluarga dan komunitas juga sangat krusial. Langkah-langkah perawatan mandiri, seperti membuat tujuan kecil dalam membersihkan dan meminta bantuan, dapat meringankan beban. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah kondisi semakin parah dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Nabila Mecadinisa
Read Entire Article
Prestasi | | | |