loading...
Penting bagi orang tua untuk peka terhadap emosi anak. Foto: American Psychological Association
JAKARTA - Kasus seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur yang bunuh diri menyita perhatian publik. Diketahui bocah kelas 4 SD atau berusia 10 tahun itu meninggalkan surat sebelum mengakhiri hidup.
Peristiwa ini tentunya menjadi perbincangan terutama soal kesehatan mental anak. Berbagai dugaan penyebab pun muncul, salah satunya adalah emosi anak yang tidak terdeteksi atau tidak selalu terlihat.
Psikolog Tegar Tata Utama, S.Psi menjelaskan bahwa anak tidak memiliki kemampuan mengekspresikan emosi seperti orang dewasa. Mereka jarang mengucapkan kalimat seperti “saya stres” atau “saya depresi”.
Baca Juga : Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Ketua Komite III DPD RI: Evaluasi Kebijakan Pendidikan di Daerah
Sebaliknya, tekanan emosi biasanya langsung muncul dalam bentuk perubahan perilaku, emosi, hingga kondisi fisik. Misalnya perubahan perilaku seperti menarik diri, menjadi pendiam, malu berlebihan, dan lainnya.
“Pada anak, tekanan itu lebih sering terlihat dari perubahan. Bisa perilaku, emosi, atau fisik,” jelas Tegar.
















































