WFH Jumat: Solusi Krisis Energi atau Sekadar Ilusi Long Weekend?

3 hours ago 6

loading...

Faozan Amar, Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA. Foto/Istimewa

Faozan Amar
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA

RENCANA pemerintah menerapkan work from home (WFH) pada hari Jumat, menandai babak baru strategi efisiensi energi nasional. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang tak menentu akibat tekanan global dan beban subsidi energi yang kian menghimpit APBN, kebijakan WFH muncul sebagai instrumen "jalan pintas", dinilai efektif, murah, dan mudah direplikasi secara masif.

Secara kalkulasi ekonomi, langkah ini memiliki rasionalitas. Sektor transportasi konsumen energi terbesar yang menyumbang lebih dari 44% energi nasional (BPS, 2023). Dengan membatasi mobilitas, pemerintah memproyeksikan penghematan BBM mencapai 20%. Sebuah angka yang sangat signifikan bagi upaya menjaga ketahanan devisa dan stabilitas energi nasional.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik kesadaran publik: Apakah efisiensi energi ini harus dibayar mahal dengan degradasi produktivitas nasional? Ataukah WFH Jumat hanyalah sebuah "kamuflase" kebijakan untuk memperpanjang masa long weekend bagi para aparatur dan pekerja?

Dilema Produktivitas di Era Digital

Dalam perspektif manajemen strategik, kebijakan ini merupakan manifestasi dari demand-side management, sebuah upaya mengendalikan konsumsi energi langsung dari sisi pengguna. International Energy Agency (IEA) dalam World Energy Outlook 2023 menegaskan; perubahan perilaku manusia, termasuk transisi menuju kerja jarak jauh, adalah strategi low-cost dengan dampak masif terhadap penurunan emisi karbon dan efisiensi konsumsi energi global.

Namun, efektivitas WFH tidak terjadi di ruang hampa. Ada risiko "pedang bermata dua" yang menyertainya. Studi dari Stanford University (2020) sempat mencatat adanya peningkatan produktivitas individu hingga 13% pada pola kerja jarak jauh. Tetapi, riset yang sama tahun 2022 dari lembaga tersebut memberikan peringatan keras: kerja jarak jauh yang tidak terkelola dengan sistem yang rigid dapat menurunkan kualitas kolaborasi tim dan kreativitas hingga 10-20%.

Read Entire Article
Prestasi | | | |