17 Pelajar Jakarta Ubah Kain Perca Jadi Peta Indonesia dan Karya Fashion untuk Amal Inklusi

4 hours ago 9

loading...

Sebanyak 17 pelajar dari lima sekolah di Jakarta menghadirkan karya kolaboratif yang memadukan kreativitas, kepedulian lingkungan, fashion, dan inklusi sosial dalam program amal yang digelar di ICE BSD, Tangsel. Foto: Ist

TANGERANG SELATAN - Sebanyak 17 pelajar dari lima sekolah di Jakarta menghadirkan sebuah karya kolaboratif yang memadukan kreativitas, kepedulian lingkungan, fashion, dan inklusi sosial. Melalui proyek Weaving Nusantara, kain-kain perca yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah disulap menjadi peta Indonesia berukuran 2,5 meter × 1,5 meter sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan amal untuk mendukung penyandang disabilitas.

Peta Indonesia tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam program amal yang digelar di ICE BSD, Tangerang Selatan, baru-baru ini. Selama berbulan-bulan, para pelajar mengumpulkan, menyusun, dan merangkai potongan-potongan kain di rumah masing-masing hingga membentuk sebuah karya yang menggambarkan kepulauan Indonesia.

Baca juga: Resmikan Sumur Air Bersih di Lombok, Prabowo Bagikan Puzzle Peta Indonesia kepada Anak-anak

Proyek ini digagas dan dijalankan secara mandiri oleh 17 pelajar dari ACS Jakarta, Jakarta Intercultural School (JIS), British School Jakarta (BSJ), Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka. Meski berasal dari sekolah dengan lingkungan dan kalender akademik yang berbeda, mereka berkolaborasi sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan acara.

Acara yang digelar ini menjadi bagian dari Style Avenue, bazar mode dan gaya hidup yang diselenggarakan KKB BNI dalam rangkaian BNI wondrX 2026. Kegiatan juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-80 BNI sekaligus momentum penggalangan dana bagi Yayasan Wisma Cheshire Indonesia, lembaga yang mendampingi penyandang disabilitas.

Bagi para pelajar, kain perca bukan sekadar bahan sisa. Potongan-potongan kain tersebut menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang keberlanjutan, keberagaman, dan inklusivitas.

“Potongan-potongan ini awalnya hanyalah serpihan cerita yang dibuang. Sendirian, mereka kehilangan maknanya. Namun saat diletakkan berdampingan, mereka menemukan rumah baru,” ujar Howard Alvias, Project Director Weaving Nusantara.

Menurut Howard, filosofi tersebut menjadi dasar dari keseluruhan proyek. Kain yang semula dianggap tidak lagi memiliki nilai dimanfaatkan kembali menjadi karya seni yang memiliki makna baru.

Read Entire Article
Prestasi | | | |