AS dan China Berlomba Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa

2 hours ago 11

loading...

AS dan China Berlomba Bangun Pusat Data . Foto/ viet

JAKARTA - Gagasan mengirim pusat data AI ke luar angkasa, yang dulunya dianggap mustahil, kini menjadi perlombaan teknologi baru antara Amerika Serikat dan China

Travis Beals, seorang direktur senior dari kelompok riset Paradigms of Intelligence di Google, mengatakan bahwa ia menghabiskan dua tahun mencoba untuk membantah proposal penempatan pusat data bertenaga surya di luar angkasa.

"Akhirnya kami menyadari bahwa itu sepenuhnya mungkin,"kata Beals.

Setelah berbagai perhitungan dan eksperimen di darat, Google memutuskan untuk meluncurkan Project Suncatcher, sebuah kolaborasi dengan perusahaan pengamatan Bumi Planet Labs untuk menguji kemampuan pemrosesan AI di orbit Bumi.

Sesuai rencana, satelit pertama yang dilengkapi dengan TPU, sebuah chip AI khusus yang dikembangkan oleh Google, akan diluncurkan pada tahun 2027 untuk menguji kinerja chip tersebut di lingkungan luar angkasa.

Luar angkasa dipandang sebagai target baru dalam perlombaan membangun pusat data. (Gambar: Planet Labs)
Persaingan baru AS-China

Google bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengejar ambisi ini. Perusahaan teknologi besar, perusahaan rintisan, dan lembagapemerintahdi AS dan Asia meningkatkan penelitian tentang pusat data berbasis ruang angkasa di tengah meningkatnya permintaan AI yang memberikan tekanan lebih besar pada jaringan listrik di bumi.

"Ini adalah front baru dalam persaingan antara AS dan China, di mana sektor kedirgantaraan, AI, dan semikonduktor bertemu,"kata Hong Shangguan, seorang investor veteran dan mantan mitra di Legend Capital yang didukung Lenovo.

Menurut Hong, meskipun teknologi tersebut masih dalam tahap awal dan membutuhkan banyak modal dan waktu, China harus mengamankan posisi strategisnya sekarang juga.

Read Entire Article
Prestasi | | | |