loading...
Potret kenangan Biruté Galdikas, primatolog legendaris yang menghabiskan lima dekade hidupnya di belantara Kalimantan demi meneliti dan menyelamatkan populasi orangutan dari ancaman kepunahan. Foto: ist
KALIMANTAN - Dunia konservasi global berduka kehilangan salah satu pahlawan terbesarnya. Biruté Mary Galdikas, ilmuwan asal Kanada yang mengabdikan seluruh napas dan hidupnya selama lima dekade di belantara Kalimantan demi meneliti dan menyelamatkan orangutan, telah mengembuskan napas terakhirnya di usia 79 tahun.
Sang legenda berpulang di Los Angeles pada Selasa dini hari akibat kanker paru-paru, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang tercintanya.
Kepergiannya menandai berakhirnya era "Trimates"—trio primatolog wanita perintis bentukan paleoantropolog Louis Leakey—menyusul kepergian Jane Goodall (peneliti simpanse) dan mendiang Diane Fossey (peneliti gorila yang tewas dibunuh pemburu liar di Rwanda pada 1985).
Galdikas bukan sekadar peneliti; ia adalah pahlawan bagi ekosistem rimba Indonesia. Saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah pada tahun 1971 bersama mantan suaminya, fotografer Rod Brindamour, tak ada profesor yang percaya ia bisa meneliti
orangutan liar yang pemalu dan bersembunyi di kedalaman hutan rawa.
“Saya mendapat skeptisisme. Saya mendapat keraguan. Orang-orang bilang itu tidak bisa dilakukan,” kenang Galdikas dalam wawancaranya bersama Matt Galloway pada 2021.
Namun, dedikasi tanpa lelahnya mematahkan keraguan dunia. Ia sukses mendata 400 jenis makanan orangutan dan menemukan fakta biologis krusial: orangutan betina di Tanjung Puting hanya melahirkan satu bayi setiap 7,7 tahun.


















































