Drone Kamikaze Iran Jadi Momok Menakutkan bagi Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya

3 hours ago 8

loading...

Drone kamikaze Iran jadi momok menakutkan bagi kapal induk AS. Foto/X/@Irves_Watch

TEHERAN - Perang modern berkembang pesat — terutama, dan berpotensi, di Teluk dan Selat Hormuz. Drone kini menjadi bagian sentral dari apa yang disebut "perang asimetris".

Ketika kedua pihak memiliki kekuatan militer yang tidak setara, alih-alih menandingi kapal dengan kapal, atau rudal dengan rudal, pihak yang lebih lemah menggunakan taktik yang tidak konvensional, berbiaya rendah, dan berdampak tinggi untuk mengimbangi keunggulan pihak yang lebih kuat.

Drone, yang umumnya dikenal sebagai sistem udara tak berawak (UAS), sangat sesuai dengan model tersebut.

Jenis drone yang digunakan dalam peperangan semakin meningkat. Militer AS mengklasifikasikan UAS menjadi lima kelompok; NATO mengklasifikasikan mereka menjadi tiga kelas.

Drone dapat mengganggu jalur pelayaran, menutup bandara, membakar fasilitas minyak, dan merusak infrastruktur penting. Mereka dapat memaksa kapal militer untuk mengambil posisi bertahan.

Drone Kamikaze Iran Jadi Momok Menakutkan bagi Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya

1. Murah dan Presisi

Melansir Gulf News, nilai utama drone: biaya rendah vs. target bernilai tinggi. Misalnya, drone seharga USD1.000–USD20.000 dapat mengancam:

Kapal angkatan laut seperti USS Abraham Lincoln senilai USD15 miliar (termasuk sayap udara)

Ketidakseimbangan biaya tersebut merupakan strategi asimetris klasik.

Di Selat Hormus, kapal induk drone Iran seperti Shahid Bagheri dapat melepaskan gelombang "amunisi jelajah" Shahed-136 bersamaan dengan rudal balistik anti-kapal (ASBM) Khalij Fars dan kawanan kapal serang cepat Peykaap.

Read Entire Article
Prestasi | | | |