Fuad Bawazier Sebut Pembiayaan Lewat SBN Berisiko Perbesar Beban Fiskal

1 day ago 44

loading...

Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, dikutip di Jakarta, Minggu (19/7/2026). FOTO/Tangkapan Layar Youtube/SindoNews

JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengandalkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai indikator kesehatan fiskal. Menurut dia, ukuran yang lebih penting adalah kemampuan negara membayar pokok dan bunga utang dari pendapatan yang dimiliki.

"Utang itu dibilang masih aman karena belum melebihi 60% dari PDB. Saya bilang, utang itu tidak dibayar pakai PDB! Utang itu kan duit cash kontan. Emang Pendapatan Domestik Bruto bisa buat bayar utang? Nggak bisa! Utang itu dicicil pakai uang, yang bersumber dari pendapatan negara," kata Fuad Bawazier dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, dikutip di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Baca Juga: S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!

Fuad menyoroti akumulasi utang pemerintah yang menurutnya telah mencapai sekitar Rp8.000 triliun dan didominasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) serta sukuk. Ia menilai penggunaan rasio utang terhadap PDB sebagai tolok ukur utama dapat menimbulkan persepsi bahwa kondisi fiskal tetap aman, padahal beban pembayaran utang terus meningkat.

Menurut Fuad, pola pembiayaan pemerintah mengalami perubahan dibandingkan era Presiden Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, hingga Megawati Soekarnoputri. Pada periode tersebut, pemerintah lebih banyak mengandalkan pinjaman luar negeri bilateral maupun multilateral yang umumnya dikaitkan langsung dengan proyek-proyek pembangunan sehingga penggunaan dananya lebih terarah.

Read Entire Article
Prestasi | | | |