Greenland: Politik Tanpa Moral

1 week ago 13

loading...

Harryanto Aryodiguno, Ph.D, Ass. Prof. International Relations Study Programs President University. Foto/Dok. SindoNews

Harryanto Aryodiguno, Ph.D
Ass. Prof. International Relations Study Programs
President University

HUBUNGAN, dalam bentuk apa pun, tidak pernah berjalan lurus. Ia selalu mengalami pasang surut—kadang erat dan hangat, kadang renggang dan penuh pertengkaran. Pola ini kita jumpai dalam persahabatan, dalam hubungan anak-anak yang hari ini bertengkar dan besok kembali bermain bersama, bahkan dalam relasi paling intim antara pasangan, suami dan istri.

Hubungan internasional pada dasarnya tidak berbeda. Negara-negara dapat menjadi sekutu dekat pada satu masa, lalu berseberangan pada masa lain, dan kemudian kembali menemukan titik temu ketika kepentingan, kepercayaan, dan situasi berubah.

Namun yang membedakan hubungan yang matang dengan hubungan yang rapuh bukanlah ada atau tidaknya konflik, melainkan apakah relasi tersebut berpegang pada fondasi nilai dan karakter. Tanpa fondasi nilai, hubungan mudah berubah menjadi transaksi. Tanpa karakter, kedekatan berubah menjadi ketergantungan yang rapuh.

Dalam konteks inilah filsafat China menawarkan kerangka refleksi yang tajam. Tradisi Konfusianisme memandang hubungan sebagai ruang tanggung jawab moral. Loyalitas dan pengabdian bukan sekadar emosi, melainkan komitmen etis untuk menjaga kehormatan bersama. Dalam hubungan antar negara, prinsip ini menuntut penghormatan terhadap kedaulatan, konsistensi sikap, dan kesadaran bahwa stabilitas jangka panjang lebih penting daripada keuntungan sesaat.

Read Entire Article
Prestasi | | | |