loading...
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menegaskan bahwa keberlanjutan pasokan bahan bakar harus dipastikan untuk menghindari terjadinya gejolak ekonomi maupun sosial. Foto/Dok
JAKARTA - Di tengah lonjakan harga minyak global , keberlanjutan pasokan untuk memenuhi kebutuhan nasional menjadi tantangan. Karena itu kebijakan populis pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) perlu diiringi perhitungan dan tindakan yang rasional.
Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk "Menjaga Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Harga Minyak Global" yang digelar E2S di Jakarta, Kamis (9/4). Dalam diskusi tersebut, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menegaskan bahwa keberlanjutan pasokan bahan bakar harus dipastikan untuk menghindari terjadinya gejolak ekonomi maupun sosial.
Komaidi mengatakan, tantangan terkait pasokan bahan bakar saat ini adalah harga dan ketersediaan di pasar. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan Reforminer Institute, dengan membandingkan harga Indonesia Crude Price (ICP) dan kurs rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN) 2026 sebesar USD70 per barel dan Rp16.500-16.900 per USD, dengan harga minyak dan kurs rata-rata saat ini, maka setidaknya ada selisih Rp5.000-9.000 per liter untuk harga jual BBM dibanding nilai keekonomiannya.
Baca Juga: Tahan Harga BBM Subsidi, Purbaya: Instruksi Langsung Presiden!
Hal itu lanjut dia, dipastikan akan memberikan tekanan berat pada keuangan PT Pertamina (Persero) yang ditugasi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional. Seperti diketahui, pemerintah meminta Pertamina menanggung terlebih dulu selisih harga tersebut.


















































