loading...
Harga BBM di Amerika Serikat belum turun secepat penurunan harga minyak mentah dunia. FOTO/Reuters
WASHINGTON - Harga minyak dunia mulai kembali ke level sebelum perang setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk meredakan konflik. Namun, harga bensin di Amerika Serikat masih bertahan tinggi dan belum turun secepat penurunan harga minyak mentah.
Kondisi tersebut memicu kemarahan publik dan kritik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap perusahaan minyak besar yang dinilai lambat menurunkan harga bahan bakar di tingkat konsumen.
"Publik marah kepada perusahaan minyak besar karena harga bensin tidak turun secepat harga minyak mentah. Kemarahan itu salah sasaran," kata Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow kepada The Hill dikutip, Senin (29/6/2026).
Baca Juga: Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
Menurut Lipow, perusahaan minyak besar hanya memiliki kurang dari lima persen stasiun pengisian bahan bakar di Amerika Serikat, meski merek mereka digunakan di sebagian besar SPBU. Ia menilai pemilik SPBU lokal justru memperoleh keuntungan besar karena lambat menurunkan harga jual.
Harga minyak dan bensin sebelumnya melonjak tajam selama perang dengan Iran. Rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat sempat menembus USD4,50 per galon pada awal tahun ini setelah Iran mampu mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz, rute penting yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4847741/original/052423500_1717056787-excited-couple-laughing-looking-smartphone.jpg)








