loading...
Mobil bekas kecelakaan kini bukan sekadar bangkai—ia punya harga, pasar, dan perdebatan. Foto: Instagram Legoas
JAKARTA - Harga mobil listrik yang dulunya nyaris setara rumah subsidi kini jatuh ke angka puluhan juga. Bukan karena diskon pabrik, melainkan karena bekas kecelakaan. Di sinilah publik terhenyak: antara tergiur harga murah, waswas risiko, dan heran mengapa “bangkai” kendaraan kini punya nilai tawar.
Belakangan ini, lini masa media sosial dan platform lelang digital ramai oleh satu fenomena yang tak lazim: mobil bekas kecelakaan berat, atau yang populer disebut mobil laka.
Kendaraan yang ringsek, airbag mengembang, bahkan struktur rangka berubah bentuk, kini ditawarkan dengan harga yang jauh di bawah pasar normal—dan tetap laku.
Salah satu contoh yang paling menyedot perhatian adalah mobil listrik Chery Omoda E5 bekas kecelakaan yang ditawarkan oleh akun lelang online Legoas.
Kendaraan yang dalam kondisi normal dipasarkan di kisaran Rp488 juta–Rp505 juta, kini muncul di aplikasi lelang dengan harga mulai Rp95 juta, bahkan ada penawaran awal Rp62 juta untuk unit dengan kerusakan sangat berat (hampir tidak berbentuk mobil lagi).
Angka itu sontak memicu perdebatan. Warganet terbelah. Sebagian mencemooh, menyebutnya “rongsokan mahal” atau “jebakan biaya perbaikan”. Sebagian lain justru menyambutnya sebagai peluang—baik untuk donor suku cadang, proyek restorasi, hingga konversi ulang untuk kebutuhan tertentu.
Fenomena ini menandai satu hal penting: mobil bekas kecelakaan bukan lagi barang mati.
Pasar yang Diam-diam Tumbuh
Di balik hiruk-pikuk komentar warganet, terdapat realitas pasar yang lebih tenang namun konsisten. Perusahaan balai lelang kendaraan bekas laka ternyata tidak sedikit. Mereka beroperasi secara legal, berizin negara, dan memfasilitasi transaksi melalui sistem digital yang transparan.


















































