loading...
Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Foto/SindoNews
JAKARTA - Penggunaan pengeras suara atau toa di masjid dan musala menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas ibadah umat Islam , mulai dari azan, iqamah, hingga pengajian. Agar pelaksanaannya tetap membawa manfaat tanpa memicu keluhan warga sekitar, pemakaiannya perlu mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag) pada Minggu (22/2/2026), regulasi penggunaan pengeras suara masjid dan musala telah diterbitkan bahkan sudah berlaku secara nasional, termasuk dalam pelaksanaan Ramadan 2026. Aturan tersebut mencakup pengaturan batas volume, durasi pemakaian, serta pemisahan fungsi antara pengeras suara luar dan dalam masjid.
Aturan penggunaan pengeras suara tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Dalam edaran tersebut ditegaskan kegiatan Ramadan seperti Salat Tarawih, ceramah atau kajian, hingga tadarus Al-Qur’an sebaiknya menggunakan pengeras suara dalam agar tidak mengganggu masyarakat sekitar.
Baca juga: Viral Bule Ngamuk Mendengar Tadarusan, MUI Minta Semua Pihak Menahan Diri
Edaran ini disusun semata untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama dalam syiar di tengah masyarakat yang beragam, baik agama, keyakinan, latar belakang, dan lainnya. Untuk itu, diatur juga bahwa suara yang dipancarkan melalui pengeras suara perlu memperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara bagus atau tidak sumbang, serta pelafalannya juga baik dan benar.
Bahkan, pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid atau musalla tidak hanya ada di Indonesia. Peraturan sejenis juga diterapkan di beberapa negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki, dan Suriah.
Lihat video: Pro Kontra Aturan Pengeras Suara Masjid Selama Ramadan
Arab Saudi, misalnya, menerbitkan edaran agar volume azan dan iqamah tidak melebihi sepertiga dari volume penuh pengeras suara. Mesir sejak 2018 juga memberlakukan pengaturan pengeras suara di masjid karena dinilai terlalu kencang.
Sebagaimana Indonesia, Bahrain juga menerbitkan imbauan penggunaan pengeras suara. Untuk azan, menggunakan pengeras suara. Sedangkan pelaksanaan beragam ibadah Ramadan menggunakan pengeras suara dalam.
Di Selangor, Malaysia, azan dan bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara luar. Sedang ceramah dan pembelajaran dibatasi hanya pada lingkungan masjid dan musala. Sementara di Uni Emirat Arab (UEA), ada imbauan agar volume pengeras suara azan masjid tidak melebihi 85 desibel, lebih kecil dari Indonesia (100 desibel).
Di Turki, penggunaan pengeras suara diperbolehkan saat azan dan khutbah Salat Jumat. Volume azan dan khutbah masjid juga tidak terlalu keras. Di Suriah, ada juga aturan bahwa penggunaan pengeras suara luar hanya untuk azan. Sementara Khutbah Jumat atau pengajian, menggunakan pengeras suara dalam.


















































