loading...
Operasi penyelamatan pilot AS habiskan anggaran Rp8,5 triliun. Foto/X
WASHINGTON - Militer AS telah berhasil mengevakuasi seorang pilot dan seorang penerbang dari wilayah Iran setelah jet F-15E Strike Eagle Amerika ditembak jatuh di dalam Republik Islam. Misi penyelamatan AS yang berisiko tinggi dan berlangsung selama beberapa hari, yang dilaksanakan di selatan provinsi Isfahan, Iran, menarik perhatian bukan hanya karena ketepatannya tetapi juga karena biayanya yang sangat besar, mencapai hampir USD500 juta atau Rp8,5 triliun.
Para pejabat AS menyebut upaya pemulihan ini sebagai salah satu misi pencarian dan penyelamatan tempur yang "paling menantang" karena medan, pengejaran Iran yang bermusuhan, dan komplikasi pasca-pemulihan. Operasi untuk mengevakuasi pilot yang jatuh melibatkan berbagai aset militer canggih, termasuk jet A-10 Thunderbolt II, pesawat MC-130J Commando II, helikopter Black Hawk, dan drone MQ-9 Reaper, yang banyak di antaranya hancur selama misi tersebut.
Pada hari Jumat, Iran mengklaim bahwa pasukan pertahanannya menembak jatuh sebuah F-15E Strike Eagle, jet segala cuaca yang dirancang untuk misi udara-ke-darat dan udara-ke-udara yang harganya sekitar USD100 juta. Dua awak—seorang pilot dan seorang petugas sistem senjata di belakang, yang bertanggung jawab untuk memilih target dan memastikan senjata dikalibrasi dengan benar ke target—berada di dalam jet tersebut ketika ditembak jatuh.
Pilot tersebut diselamatkan segera setelahnya, tetapi awak pesawat kedua, yang digambarkan Trump sebagai "Kolonel yang sangat dihormati", harus menghabiskan lebih dari 24 jam untuk menghindari penangkapan di wilayah pegunungan.
Tak lama kemudian, pesawat C-130 Hercules dan helikopter H-60 memasuki wilayah udara Iran membawa pasukan elit ke lokasi di mana para pejabat AS diyakini berada. Drone pengintai mendeteksi sinyalnya jauh di dalam wilayah Iran. Mereka mengkonfirmasi posisinya dan memetakan ancaman di sekitarnya.


















































