Persoalan Struktural Kenapa Harga Beras Naik Terus

2 hours ago 7

loading...

Khudori - Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto: Dok Pribadi

Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI

HARGA beras kembali naik. Dari Juli ke Agustus 2026, merujuk data BPS 1 September 2026, harga beras di pengilingan (produsen), grosir (pasar), dan eceran (konsumen) berturut-turut naik 1,32%, 0,80%, dan 0,42%. Berarti dari Januari hingga Agustus 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran terus naik. Delapan bulan berturut-turut. Tidak ada jeda. Termasuk saat panen raya Februari-Mei lalu. Bahkan, ketika produksi melimpah saat puncak panen raya April 2026, harga beras tetap naik.

Ini adalah rekor. Rekor lain yang patut dicatat adalah selama delapan bulan beruntun pula harga beras selalu menjadi penyumbang inflasi. Tidak selalu menjadi penyumbang utama. Tapi tidak pernah absen. Pada Agustus 2026, beras menjadi penyumbang inflasi untuk kategori harga bergejolak (volatile foods) bersama daging ayam ras dan cabai rawit. Rekor ini melengkapi rekor lainnya di industri perberasan: stok beras di gudang BULOG mencapai 5,2 juta ton alias tertinggi sepanjang sejarah Republik.

Bagi masyarakat awam, kenaikan harga beras sekaligus sebagai penyumbang inflasi delapan bulan beruntun amat membingungkan. Bukankah Indonesia sudah swasembada beras? Bukankah negara ini, versi pemerintah, telah mengekspor beras? Bukankah produksi padi belum ada gangguan berarti? Bukankah stok di BULOG volumenya jumbo dan tertinggi sepanjang sejarah? Bukankah stok di masyarakat, versi pemerintah, tinggi: lebih 12 juta ton? Mengapa indikasi produksi melimpah tak tercermin di harga?

Kalau kenaikan harga beras terjadi seminggu dua minggu, amat mungkin ada spekulan yang bermain-main untuk menangguk untung. Akan tetapi, kalau kenaikan harga berlangsung berbilang minggu dan bahkan berbulan-bulan, perlu diperiksa lebih teliti. Pernyataan dan klaim sepihak bahwa stok cukup, bahkan melimpah, tak lagi memadai. Kenyataannya beras premium sulit didapatkan di retail modern. Stok produsen beras dan penggilingan menipis: dari semula mencapai bulanan menjadi hanya harian.

Oleh karena itu, hemat penulis, ada persoalan struktural yang membuat harga beras terus naik. Pertama, harga pokok produksi beras terus naik. Kenaikan terjadi seiring naiknya harga gabah. Sejak kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) sembarang kualitas di petani Rp6.500/kg, Februari 2025, harga gabah selalu di atas HPP. Di sejumlah daerah, harga gabah Rp7.700/kg, bahkan melampaui Rp8.000/kg. Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik.

Kedua, kompetisi memperebutkan gabah di pasar tetap sengit. Ini terjadi karena BULOG masih terus mengejar pencapaian target pengadaan setara 4 juta ton beras. Per 26 Agustus 2026, pengadaan tercapai 3,719 juta ton beras. Terdiri dari cadangan beras pemerintah (CBP) 3,65 juta ton dan komersial 64 ribu ton. Target pengadaan BULOG di sejumlah daerah sudah tercapai. Tapi karena secara nasional belum terpenuhi 4 juta ton beras, target cabang/daerah BULOG yang belum tercapai dapat digeser. Harga gabah potensial terus naik seiring langkah BULOG tetap menyerap meski target tercapai.

Read Entire Article
Prestasi | | | |