loading...
Pesawat tempur Angkatan Laut AS lepas landas dari kapal induk USS Abraham Lincoln selama Operasi Epic Fury yang menargetkan Iran di Teluk Oman, pada 1 Maret 2026. Foto/Angkatan Laut AS/Anadolu Agency
WASHINGTON - Personel Angkatan Udara Amerika Serikat yang mendukung Operasi Epic Fury di Timur Tengah menghadapi 1.200 kondisi "Alarm Merah" di tengah serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran. Mereka juga menyelesaikan 48 perbaikan landasan pacu, dan melakukan lebih dari 400 penyisiran untuk mendeteksi serta menangani bahan peledak yang belum meledak, menurut seorang pejabat senior militer pada hari Senin (14/9/2026), sebagaimana dilaporkan Anadolu.
“Operasi ini akan dipelajari terkait skala, presisi, dan kecepatannya,” ujar Jenderal Ken Wilsbach, Kepala Staf Angkatan Udara, dalam Konferensi Udara, Antariksa, dan Siber.
Ia mencatat selama lebih dari 38 hari misi tempur, Pasukan Gabungan menghantam lebih dari 13.000 target militer.
Armada yang terdiri dari 500 pesawat melaksanakan 10.000 sortie (penerbangan misi), mempertahankan tempo harian lebih dari 250 penerbangan, sementara personel menangani perbaikan darurat dan melakukan lebih dari 420 misi pembuangan bahan peledak di tengah situasi pertempuran, tambahnya.
Misi tempur tersebut berlangsung selama perang dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan gabungan AS-Israel terhadap kepemimpinan dan infrastruktur Iran.


















































