Rugi Rp85 Triliun, Mengapa Valuasi SpaceX Malah Meroket Tembus Rp29.750 Triliun?

7 hours ago 9

loading...

Roket Starship milik SpaceX yang menjadi tulang punggung ambisi Elon Musk menuju penawaran umum perdana (IPO) raksasa. Foto: Reuters

AMERIKA - Di dunia bisnis konvensional, kerugian finansial bernilai miliaran dollar adalah lonceng kematian bagi perusahaan yang bersiap melantai di bursa saham.

Namun, hukum gravitasi ekonomi seolah tidak berlaku bagi SpaceX. Perusahaan antariksa besutan Elon Musk ini baru saja mencatatkan kerugian fantastis mendekati angka USD5 miliar atau setara Rp 85 triliun, sepanjang tahun 2025.

Uniknya, alih-alih ditinggalkan investor, SpaceX justru melenggang percaya diri menuju Penawaran Umum Perdana (IPO) pada Juni 2026 dengan target valuasi yang tak masuk akal: menembus USD1,75 triliun atau Rp29.750 triliun!

Mengapa perusahaan yang "membakar" uang puluhan triliun rupiah tetap didewakan sebagai salah satu entitas bisnis paling berharga di dunia?
Kerugian Rp85 triliun yang dialami SpaceX pada tahun 2025 terjadi di atas total pendapatan yang sebenarnya sangat masif, yakni mencapai lebih dari USD18,5 miliar AS (Rp 314,5 triliun).

Sebagai perbandingan, pada 2024 sebelumnya, SpaceX justru mencetak rekor profitabilitas dengan keuntungan USD8 miliar (Rp136 triliun) dari pendapatan sebesar USD15 miliar hingga USD16 miliar (Rp 255 triliun - Rp 272 triliun).

Lantas, ke mana menguapnya keuntungan raksasa tersebut? Jawabannya bermuara pada satu ambisi megalomania Elon Musk: Kecerdasan Buatan (AI).
Kerugian masif di tahun 2025 rupanya menyusut drastis karena SpaceX melakukan manuver agresif dengan mengakuisisi startup AI milik Musk sendiri, yakni xAI, pada bulan Februari 2025.

Akuisisi ini bukan sekadar pencaplokan bisnis biasa, melainkan fondasi dari rencana gila Musk untuk membangun dan menyebarkan pusat data kecerdasan buatan (AI data centers) di orbit Bumi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |