Slow Travel Naik Daun di Asia Pasifik, Resor Kian Diminati

6 hours ago 11

loading...

Slow travel naik daun, resor kian diminati. Foto: Dok Hilton

JAKARTA - Ledakan tren slow travel mengubah peta pariwisata Asia Pasifik. Wisatawan mulai beralih pola dari liburan serba cepat ke pengalaman yang lebih lambat, intim, dan bermakna. Hal ini mendorong resor naik kelas dari sekadar akomodasi menjadi destinasi utama untuk beristirahat, terhubung, dan memulihkan diri.

Perubahan ini tercermin dari proyeksi industri global. Sektor resor diperkirakan tumbuh dengan CAGR 19,6% pada 2025–2030, sementara pendapatan di Asia Pasifik diprediksi menembus USD 945,4 miliar pada 2030, menegaskan resor sebagai pusat gravitasi baru industri pariwisata.

Laporan tren 2026 dari Hilton mengidentifikasi dua pendorong utama, yakni “Hushpitality” dan “Generation Permutations”. “Hushpitality” menekankan kemewahan yang tenang, pengalaman alam imersif, serta me time yang personal, sementara “Generation Permutations” mencerminkan meningkatnya perjalanan lintas generasi untuk mempererat ikatan keluarga. Keduanya bermuara pada kebutuhan akan perjalanan yang lebih lambat, sadar, dan terkoneksi.

Baca Juga : Mewujudkan Liburan ke Bangkok dengan Penawaran Tiket yang Lebih Hemat

Vincent Ong, Vice President Full-Service Brands Asia Pacific Hilton, menegaskan perubahan tersebut. “Seiring wisatawan di Asia Pasifik semakin selektif dalam memanfaatkan waktu libur mereka, kami melihat pergeseran menuju pengalaman menginap di resor yang mengutamakan istirahat, keterlibatan yang lebih dalam, serta koneksi yang lebih bermakna,” ujarnya. Ia menambahkan, setiap pengalaman dirancang sebagai perjalanan utuh melalui program wellness, lingkungan alam, dan aktivitas untuk semua usia.

Read Entire Article
Prestasi | | | |