81 Tahun RI: Ekonomi Melejit, Kelas Menengah Kok Malah Terjepit?

3 hours ago 7

loading...

Simak pendalaman indikator ekonomi secara presisi, kebenaran fakta di tingkat akar rumput, serta proyeksi solutifnya dalam tayangan lengkap ONE ON ONE bersama Eko Listianto. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Dalam momentum refleksi 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, ancaman nyata Chilean Paradox kini membayangi perekonomian nasional . Capaian pertumbuhan ekonomi makro yang diklaim meningkat pesat justru menyisakan impitan beban finansial yang kian berat bagi kelompok masyarakat kelas menengah .

Hal tersebut diungkapkan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listianto saat berdialog dengan Prisca Papilaya dalam program ONE ON ONE SindoNews TV. Baca juga: Fenomena Makan Tabungan Makin Eksis di RI, Banyak Kelas Menengah Jatuh Miskin

Secara statistik, indikator ekonomi Indonesia menunjukkan grafik kenaikan. Pertumbuhan ekonomi semester I-2026 tercatat mencapai 5,45%, melampaui realisasi periode tahun lalu sebesar 5,11%. Pemerintah bahkan mematok target optimistis hingga 6% dalam skema RAPBN.

Namun, Eko menyoroti anomali tajam antara angka pertumbuhan makro dengan realitas harian masyarakat. Kebijakan alokasi anggaran pemerintah dinilai terlalu berfokus pada jaring pengaman sosial untuk masyarakat bawah, serta memanjakan kelompok atas melalui kenaikan suku bunga perbankan.

Akibatnya, kelompok kelas menengah justru terabaikan di tengah merangkaknya biaya hidup, pendidikan, energi, dan transportasi. "Jadi kita tidak bisa membanggakan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi kelas menengahnya turun. Itu benar-benar anomali yang secara umum kalau negara maju tidak begitu," tegas Eko Listianto.

Read Entire Article
Prestasi | | | |