loading...
Sinyal bahaya bagi industri energi global justru makin menguat, di tengah klaim jeda serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Iran serta diplomasi yang rapuh. Foto/Dok
JAKARTA - Sinyal bahaya bagi industri energi global justru makin menguat, di tengah klaim jeda serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Iran serta diplomasi yang rapuh. CEO Chevron , Mike Wirth melontarkan peringatan keras bahwa ancaman terhadap pasokan minyak dunia kini telah memasuki fase 'sangat nyata' (very real) akibat meluasnya konflik dengan Iran dan gempuran milisi Houthi ke fasilitas minyak Arab Saudi.
Eskalasi lima bulan perang tidak hanya melumpuhkan Selat Hormuz, tetapi kini merembet hingga merusak infrastruktur vital di Laut Merah hingga Laut Hitam. Meskipun Trump sempat memerintahkan penundaan serangan baru ke Iran, Wirth menegaskan bahwa pasar energi dunia berada dalam kondisi sangat rapuh.
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz merosot drastis hingga hanya tersisa hitungan jari per hari, sementara persediaan minyak global terus menurun. Dampak krisis ini langsung memukul kantong konsumen.
Baca Juga: AS Tahan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok 5%
Harga bensin AS untuk rata-rata nasional melonjak ke angka USD4,09 per galon, melesat hampir USD1 dibandingkan periode yang sama tahun lalu USD3,15. Sementara itu minyak mentah WTI bertengger di kisaran USD84 per barel.


















































