loading...
Kinerja perdagangan Asia Tenggara menunjukkan ketahanan kuat di tengah tekanan kebijakan tarif AS. FOTO/AP
JAKARTA - Kinerja perdagangan Asia Tenggara menunjukkan ketahanan kuat di tengah tekanan kebijakan tarif Amerika Serikat. Pada kuartal III-2025, ekspor negara-negara Asia Tenggara ke AS tercatat melonjak 25% secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui ekspektasi pasar meski kawasan tersebut menghadapi tarif agresif dari Presiden Donald Trump.
Berdasarkan data Biro Sensus AS, impor Amerika Serikat dari Asia Tenggara mencapai rekor sekitar 40 miliar dolar AS berdasarkan rata-rata bergulir tiga bulan pada kuartal III 2025. Lonjakan ini terjadi meskipun tarif timbal balik sempat diberlakukan hingga 49% pada April 2025 sebelum dinegosiasikan turun ke kisaran 19–20%. Pada saat yang sama, ekspor China ke AS justru anjlok 40% secara tahunan.
"Pemerintahan Trump telah memberi sinyal dalam pembicaraan dengan negara-negara kawasan bahwa mereka mungkin tidak menerima kandungan China yang signifikan dalam produk akhir yang diekspor ke AS," tulis laporan Financial Times dikutip SindoNews, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Tak Hanya Venezuela, AS Berambisi Kontrol Belahan Bumi Barat
Permintaan AS yang tetap kuat terhadap produk elektronik menjadi penopang utama ekspor Asia Tenggara. Produk teknologi seperti semikonduktor, peralatan pembuatan chip, komputer, dan ponsel pintar sebagian besar dikecualikan dari tarif Trump. Ekspor elektronik dari Asia tercatat tumbuh sekitar 40% secara tahunan, lebih cepat dibandingkan lonjakan yang terjadi pada masa pandemi.


















































