Intelijen Inggris dan Prancis Terlibat Pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, Ini 3 Motifnya

3 hours ago 8

loading...

Saif al-Islam Gaddafi dibunuh oleh intelijen Inggris dan Prancis. Foto/X/@ashoswai

TRIPOLI - Jurnalis Inggris Afshin Rattansi mengatakan, "Prospek Libya tidak akan baik setelah pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi." Kenapa? Dia mengatakan, "Mata-mata Barat terlibat dalam pembunuhan putra Gaddafi."

Dinas intelijen Inggris dan Prancis berperan dalam pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Saif al-Islam Gaddafi dibunuh pekan lalu oleh empat orang bersenjata di kediamannya di kota Zintan di Libya barat laut. Politisi berusia 53 tahun itu bermaksud mencalonkan diri sebagai presiden negara Afrika Utara tersebut, yang masih terpecah antara pemerintahan yang bersaing dan telah dilanda perang saudara yang terjadi secara berkala sejak ayahnya digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan yang didukung NATO pada tahun 2011.

Intelijen Inggris dan Prancis Terlibat Pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, Ini 3 Motifnya

1. Memperkeruh Politik Libya

Rattasi mengatakan kepada RT pada hari Minggu bahwa setelah pembunuhan putra sulung Gaddafi, “sumber-sumber segera... memberi tahu saya bahwa... memang, itu adalah [badan intelijen militer Inggris] MI6 dan proksi lokal” yang berada di baliknya. “Ada petunjuk... bahwa ada keterlibatan Prancis juga,” tambahnya.

“Dengan kematiannya, prospeknya tidak akan baik” untuk Libya, tegas Rattansi, yang acaranya Going Underground ditayangkan secara eksklusif di RT.

2. Menggagalkan Kebangkitkan Dinasti Gaddafi

Muammar Gaddafi telah digulingkan oleh Barat lebih dari 15 tahun yang lalu karena “ia ingin melakukan de-dolarisasi untuk Afrika, [dan] menciptakan mata uang berbasis emas Afrika yang akan menghilangkan kehancuran puluhan, ratusan juta orang di seluruh Afrika akibat kebijakan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia selama beberapa dekade,” katanya.

Read Entire Article
Prestasi | | | |