Islamabad dan Ilusi Diplomasi Perang Iran 2026

7 hours ago 10

loading...

Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik UIII dan Direktur COMPOSE. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan Al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

PANGGUNG diplomasi kembali digelar di Islamabad, pada masa gencatan senjata yang diperpanjang Trump, tanpa batas dan tanpa persetujuan Iran. Pada hari ke 54 perang Iran, delegasi Iran, yang diwakili Menlu Iran Abbas Araghchi, terbang ke Pakistan, setelah itu dia berencana ke Oman dan Rusia, dengan agenda yang tampak jelas, yaitu meredakan konflik yang semakin meluas melampaui kawasan.

Sedangkan Amerika Serikat (AS), yang rencananya diwakili Steve Witkoff dan Jared Kushner, akhirnya batal berangkat. Trump menyatakan, “Kami tidak akan bepergian 15, 16 jam untuk sebuah pertemuan dengan orang-orang yang belum pernah didengar oleh siapa pun”.

Dunia sedang menyaksikan sebuah paradoks, yaitu “perundingan tanpa pertemuan” di Islamabad. Araghchi menyatakan, “tidak ada rencana untuk sebuah pertemuan antara Iran dan AS”.

Pada satu sisi, Iran tetap bersikukuh menolak perundingan langsung dengan AS, bahkan, memilih jalur tidak langsung melalui mediator. Namun, di balik pertemuan yang difasilitasi Pakistan ini, putaran kedua perundingan Iran–AS telah mempertegas sebuah pola lama bahwa negosiasi diplomatik yang dilakukan tidak menyentuh dan menyahuti akar-akar konflik yang akut.

Kepentingan Iran dan AS adalah berbeda, diametral dan bahkan saling menegasikan. Di satu sisi, AS menginginkan jaminan verifikasi atas program nuklir Iran dan stabilitas kawasan. Di lain sisi, Iran menuntut penghentian serangan AS-Israel dan pencabutan blokade ekonomi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |