Lawan Baterai China, AS Siap Gunakan Temuan Thomas Edison

5 hours ago 6

loading...

AS Siap Gunakan Temuan Thomas Edison. Foto/ Viet

JAKARTA - Jenis baterai yang dianggap usang selama lebih dari seabad kini kembali menarik perhatian para ilmuwan dan pelaku bisnis seiring dunia memasuki transisi energi berskala besar

Dari penemuan Thomas Edison hingga teknologi yang ditinggalkan
Pada tahun 1901, Thomas Edison memperkenalkan baterai nikel-besi (Ni-Fe) dengan harapan dapat menggantikan baterai timbal-asam yang ada saat itu.

Jenis baterai ini memiliki struktur yang relatif sederhana, dengan elektroda positif yang terbuat dari nikel oksida, elektroda negatif dari besi, dan larutan elektrolit alkali.

Sejak awal, baterai Ni-Fe menunjukkan keunggulan yang jelas dalam daya tahannya yang superior dibandingkan dengan banyak teknologi penyimpanan energi lainnya.

Dalam kondisi pengoperasian yang sesuai, baterai nikel-besi dapat beroperasi dengan andal selama beberapa dekade, bahkan hingga 30-50 tahun, tanpa degradasi yang signifikan.

Kemampuannya untuk menahan banyak siklus pengisian-pengosongan yang dalam tanpa kerusakan menjadikannya salah satu jenis baterai paling tahan lama yang pernah dikembangkan.

Namun, keterbatasan kinerja inilah yang menyebabkan penemuan ini dengan cepat ditinggalkan. Baterai Ni-Fe memiliki kecepatan pengisian yang lambat dan efisiensi energi yang lebih rendah dibandingkan dengan baterai timbal-asam, belum lagi ukurannya yang besar dan biaya investasi awal yang relatif tinggi dalam konteks awal abad ke-20.

Seiring munculnya teknologi baru, terutama lithium-besi, dengan kepadatan energi yang tinggi dan kemampuan pengisian daya yang cepat, baterai nikel-besi secara bertahap menghilang dari arus utama teknologi penyimpanan energi.

Selama lebih dari 120 tahun, jenis baterai ini hampir secara eksklusif digunakan dalam aplikasi yang sangat terbatas seperti sistem daya mandiri atau lingkungan yang membutuhkan daya tahan tinggi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |