loading...
Wilayah Kerajaan Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman diserang kelompok Houthi. Foto/Houthi Media Centre
RIYADH - Wilayah selatan Arab Saudi dilanda gelombang serangan rudal dari kelompok Houthi Yaman pada Selasa lalu, menyebabkan lebih dari 70 orang terluka serta memicu kebakaran di sejumlah fasilitas minyak dan utilitas. Eskalasi ini juga menyoroti pakta pertahanan bersama yang baru saja ditandatangani di Makkah antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki.
Ditandatangani pada bulan Agustus di Makkah, pakta tersebut menyatakan bahwa agresi terhadap salah satu dari ketiga negara itu akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya. Klausul tersebut mirip dengan Pasal 5 NATO yang jadi prinsip pertahanan kolektif aliansi pimpinan Amerika Serikat (AS). Lantaran kemiripan itulah, aliansi Makkah kerap disebut-sebut sebagai "NATO Islam" atau "NATO Muslim".
Baca Juga: Houthi Peringatkan Turki dan Pakistan Tidak Dukung Arab Saudi dalam Perang di Yaman
Namun, faktanya, aliansi Makkah tak kunjung mengaktifkan respons militer kolektif untuk menolong Arab Saudi.
Pakistan, satu-satunya anggota aliansi Makkah yang bersenjata nuklir, menyatakan tidak ada pembahasan mengenai respons militer berdasarkan pakta Mekkah terkait serangan Houthi terhadap Arab Saudi.
"Tidak ada hal semacam itu yang sedang dibahas saat ini...Ketika saatnya tiba, (kami) akan bertindak sesuai perjanjian tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (13/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas pertanyaan mengenai bagaimana Islamabad berencana memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan pertahanan bersama yang ditandatangani dengan Turki dan Arab Saudi.


















































