loading...
Di tengah gempuran lebih dari 20 merek mobil China dan lesunya ekonomi makro, BMW Indonesia mengaku tetap optimistis. Foto: BMW Indonesia
JAKARTA - Pasar mobil premium sedang masuk angin. Anda sudah tahu penyebabnya. Ekonomi global meriang. Daya beli kaum kaya ikut tertahan.
Tahun 2025 lalu berat. Sangat berat. Apalagi di kuartal kedua: April, Mei, Juni. Semua merek otomotif turun. Bukan cuma kelas premium.
Bos BMW Group Indonesia, Peter "Sunny" Medalla mengakui itu. Angka jualan awal 2026 ini memang masih di bawah periode yang sama tahun lalu.
Tapi Sunny tidak panik. Ia melihat ada yang menarik: daftar antrean Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) mulai memanjang.
"Kita masih di bawah tahun lalu. Tapi kuartal II kita tetap optimistis," ujar Sunny, Jumat (17/4/2026). Ia bicara di sela pameran Festival of Joy, JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Sunny yakin kuartal II tahun 2026 ini akan berbalik. Patokannya sederhana: basis jualan di kuartal II tahun 2025 hancur. Dihantam kebijakan Donald Trump di Amerika, saham anjlok, hingga nilai tukar mata uang yang melemah.
Jadi, target tumbuh dari titik nadir itu sangat masuk akal. Secara year on year pasti terlihat bagus.


















































