Perang Kei Car Listrik Pecah di Jepang, Apa Dampaknya di Indonesia?

12 hours ago 16

loading...

Kei car listrik di Jepang menjadi pasar baru yang diperebutkan oleh pabrikan Jepang dan China. Foto; ist

JEPANG - Kei car EV bisa jadi jawaban pabrikan Jepang untuk melawan mobil China di segmen elektrifikasi entry level, peluru yang selama ini tidak dimiliki pabrikan Jepang.

Kei car adalah nyawa industri otomotif Jepang. Menguasai hampir 40 persen pasar mobil baru di sana.

Tahun 2024 terjual 1,3 juta unit kei car, dari total 4,4 juta mobil baru se-Jepang. Tapi nyawa itu kini diusik orang asing. Namanya BYD, pabrikan mobil listrik terbesar dari China.

Akhir Juli lalu BYD menjual Racco. Di Jepang. Kei car listrik pertama yang dirancang khusus oleh pabrikan asing, dari nol, untuk mematuhi aturan kei Jepang: panjang maksimal 3,4 meter, lebar 1,48 meter, tenaga motor dibatasi 47 kW.

Racco dijual tiga varian. Mulai Rp233 juta-Rp271 juta. Baterai 22,4 kWh-35,84 kWh, jarak 210 km-320 km. Racco menang telak dari Nissan Sakura, kei listrik yang selama ini merajai pasar.

Tapi, BYD kalah disini: subsidi. Pemerintah Jepang memberi subsidi kendaraan listrik hingga Rp62,3 juta untuk mobil listrik kei buatan pabrikan lokal. Untuk "mobil asing" BYD Racco, hanya Rp16 juta. Ditambah subsidi kota seperti Tokyo, harga Racco bisa tembus Rp167 juta. Murah sekali.

Tapi, subsidi bikin Nissan Sakura dan Mitsubishi eK X EV tetap lebih murah: Rp140 juta.

Kenapa pabrikan Jepang--yang selama puluhan tahun nyaman jual kei car bermesin bensin--tiba-tiba ramai-ramai masuk ke kei listrik?

Pertama, soal kandang yang mulai dimasuki orang lain. Kei car adalah wilayah paling sensitif dan sakral buat pabrikan Jepang.

Kalau BYD berhasil merebut sedikit saja pangsa di sana, dampak psikologisnya besar. Ini bukan soal Racco. Ini soal siapa yang menguasai jalan-jalan sempit di pedesaan dan perkotaan Jepang, yang sudah jadi milik Jepang sejak 1950-an.

Read Entire Article
Prestasi | | | |