loading...
Tangkapan layar dari rekaman CCTV menunjukkan detik-detik banjir bandang dahsyat Nepal terjang Pelabuhan Gyirong, Tibet, pada Rabu, 27 Agustus 2026. Foto/Wikimedia Commons
JAKARTA - Bencana banjir bandang dahsyat yang menerjang lembah sungai Trishuli dan Koshi di Nepal tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai tragedi Pegunungan Himalaya biasa.
Peristiwa yang bermula dari peristiwa alam, yakni longsoran besar es dan batuan yang mengikis bagian gletser di ketinggian 5.200 meter dekat perbatasan Tibet-Nepal, berubah menjadi bencana berantai setelah menabrak bentang alam pegunungan yang kian sarat rekayasa di bagian hulu.
Baca Juga: Nepal Itu Pegunungan, Kok Bisa Dilanda Banjir Bandang Dahsyat? Ini Pemicunya
Akademisi dari Centre for Policy Research dan Robert Bosch Academy, Brahma Chellaney, menegaskan bahwa peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat jelas.
"Di kawasan Himalaya yang rapuh, perubahan yang dilakukan manusia terhadap sungai dan bentang alam pegunungan dapat secara dramatis memperbesar dampak bencana alam," ujar Chellaney, dalam keterangan di situs Nikkei Asia, Sabtu (29/8/2026).
Bencana terjadi dengan kecepatan yang mengejutkan. Massa es dan batuan dalam jumlah sangat besar jatuh ke catchment upper Lhende Khola, hancur menjadi bubur padat yang menyumbat celah sempit sebelum tanggul buatan tersebut runtuh.
Runtuhnya sumbatan ini menghasilkan gelombang seismik yang sangat tidak biasa, hingga sistem pemantauan otomatis sempat mengiranya sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2.


















































