loading...
Drama geopolitik TikTok akhirnya mereda setelah ByteDance sepakat melepas mayoritas kendali operasional Amerika Serikat kepada konsorsium Oracle demi menghindari pemblokiran total. Foto: ist
JAKARTA - Sengkarut nasib TikTok di Amerika Serikat akhirnya menemui titik terang yang dramatis. ByteDance, induk perusahaan raksasa asal China, resmi menandatangani kesepakatan mengikat untuk menyerahkan kendali operasional aplikasi video pendek tersebut kepada sekelompok investor elite Barat.
Langkah ini diambil demi menghindari pemblokiran total di Negeri Paman Sam, sekaligus mengakhiri tahun-tahun penuh ketidakpastian yang membayangi nasib 170 juta pengguna aktif di sana.
Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan kompromi geopolitik tingkat tinggi.
Sebuah entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC resmi dibentuk. Di bawah struktur anyar ini, konsorsium investor yang dipimpin oleh raksasa komputasi awan Oracle, grup ekuitas swasta Silver Lake, dan perusahaan investasi berbasis di Abu Dhabi, MGX, akan menguasai porsi saham mayoritas sebesar 80,1 persen.
Sementara itu, ByteDance harus puas mundur ke posisi minoritas dengan mempertahankan kepemilikan hanya sebesar 19,9 persen.
Valuasi dan Struktur yang Kompleks
Meski angka final tidak diungkap ke publik pada Kamis lalu, Wakil Presiden AS JD Vance pada September sempat menyebut bahwa valuasi perusahaan baru ini berada di kisaran USD14 miliar (Rp222 triliun).
Nilai ini berada di bawah estimasi awal para analis, menyiratkan betapa mendesaknya posisi ByteDance untuk menyelamatkan asetnya.
Dalam memo internal yang dilihat oleh Reuters, CEO TikTok Shou Zi Chew menegaskan kepada karyawan bahwa usaha patungan (joint venture) ini akan beroperasi sebagai entitas independen.


















































