loading...
Anggota Komisi VIII DPR Selly Andriany Gantina menilai meninggalnya YBS (10) di Ngada, NTT potret nyata kemiskinan struktural. Siswa kelas IV SD itu mengakhiri hidupnya karena tak bisa membeli buku dan pena sebesar Rp10.000. Foto: Ist
JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina menilai meninggalnya YBS (10) di Ngada, NTT merupakan potret nyata kemiskinan struktural. Hal itu karena kegagapan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan kehidupan yang layak.
Ketika buku pelajaran kebutuhan paling elementer dalam pendidikan menjadi penghalang hidup, maka persoalan yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan struktural yang belum terselesaikan.
"Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak," ujar Selly, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Perlindungan Anak Harus Ditingkatkan Cegah Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT Terulang
Sebelumnya, kematian YBS (10) menjadi sorotan publik. Peristiwa itu sangat miris lantaran siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur itu mengakhiri hidupnya karena tak bisa membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000.
Alasannya sang ibu MGT (47) tidak memiliki uang karena menjadi orang tua tunggal hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Dia juga harus menafkahi 5 anaknya.

















































