loading...
Saif Al Islam Gaddafi tewas ditembak karena ingin kembali ke politik. Foto/X/@Its_ereko
TRIPOLI - Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan penguasa Libya Muammar Gaddafi, pernah dipandang sebagai pewaris takhta salah satu rezim terlama di dunia Arab.
Pembunuhannya di Libya barat telah membuka kembali luka lama dan menghidupkan kembali pertanyaan tentang kekuasaan, akuntabilitas, dan keadilan yang belum tuntas di negara tersebut.
Saif al-Islam tewas pada hari Selasa di rumahnya di kota Zintan, barat daya Tripoli. Kantor politiknya mengatakan dia meninggal setelah empat pria bersenjata menyerbu rumah, menonaktifkan kamera pengawas, dan melepaskan tembakan, menggambarkan insiden itu sebagai pembunuhan yang direncanakan.
Kantor Kejaksaan Agung Libya kemudian mengkonfirmasi bahwa pemeriksaan forensik menunjukkan dia meninggal karena luka tembak. Dikatakan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi tersangka dan mengajukan kasus pidana.
4 Fakta Pembunuhan Saif Al-Islam Gaddafi yang Disebut sebagai Calon Pemimpin Libya
1. Belum Ada Kelompok yang Mengaku Bertanggung Jawab
Melansir The New Arab, tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab, dan belum ada penangkapan yang diumumkan.
Kelompok-kelompok bersenjata di dan sekitar Zintan membantah keterlibatan, termasuk milisi Brigade 444, yang berafiliasi dengan kementerian pertahanan di Tripoli. Mereka mengatakan "tidak memiliki penempatan lapangan di Zintan" dan tidak menerima perintah untuk mengejarnya.
Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa unit-unit keamanan yang sebelumnya terkait dengan perlindungannya menutup area tersebut setelah pembunuhan itu, tetapi masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab untuk menjaganya atau bagaimana para penyerang mendapatkan akses.
















































