loading...
Hampir separuh dari total pasokan minyak dunia pada 2026 berasal dari negara-negara konflik bersenjata dan krisis geopolitik. FOTO/Reuters
LONDON - Hampir separuh dari total pasokan minyak dunia pada 2026 berasal dari negara-negara konflik bersenjata dan krisis geopolitik. Kondisi ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sejak enam bulan lalu yang melahirkan krisis pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah tanpa kepastian kapan akan berakhir.
"Krisis yang dipicu oleh konflik di Iran, Ukraina, Libya, hingga pembatasan ekspor Venezuela ini telah melampaui skala krisis energi pada masa-masa sebelumnya," demikian laporan kalkulasi Reuters berdasarkan data International Energy Agency (IEA), dikutip Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: Disanksi AS Terkait Iran, China Tegas Siapkan Balasan
Berdasarkan data produksi 2025, negara-negara yang saat ini terdampak konflik memproduksi sekitar 45 juta barel minyak per hari (bph). Jumlah tersebut menyumbang lebih dari 43% dari total pasokan minyak mentah global, yang secara masif mengganggu stabilitas pasar energi global.
Guncangan pasokan di kawasan Teluk sendiri saat ini diperkirakan mencapai 5 juta hingga 7 juta bpd. Gangguan tersebut terjadi meskipun Arab Saudi telah mengalihkan jalur pengiriman minyak ke Laut Merah dan sejumlah eksportir Teluk mengupayakan pengiriman secara terselubung untuk menembus blokade di Selat Hormuz.
Selain krisis di Timur Tengah, perang antara Rusia dan Ukraina turut memicu penurunan produksi dan aktivitas penyulingan, termasuk yang dialami Kazakstan pada tahun ini. Tekanan terhadap pasokan dunia kian diperberat oleh konflik berkepanjangan di Libya serta pembatasan sanksi AS atas ekspor minyak Venezuela sejak awal tahun.


















































