loading...
Di tengah kebuntuan pasokan energi akibat blokade Selat Hormuz, mata dunia kini tertuju pada Venezuela. Foto/Dok
JAKARTA - Di tengah kebuntuan pasokan energi akibat blokade Selat Hormuz , mata dunia kini tertuju pada minyak Venezuela . CEO Chevron Corp, Mike Wirth memberikan sinyal positif sekaligus peringatan keras terkait upaya menghidupkan kembali raksasa minyak Amerika Selatan tersebut sebagai solusi krisis energi global.
Dalam wawancaranya di program Face the Nation CBS, Wirth menyebut perubahan kebijakan minyak Venezuela di bawah kepemimpinan presiden pelaksana, Delcy Rodríguez menjadi kemajuan besar. Namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut belum cukup untuk memicu banjir investasi asing yang diharapkan.
Era Baru Venezuela Pasca-Maduro
Setelah kejatuhan Nicolás Maduro pada Januari 2026, pemerintahan baru di bawah Delcy Rodríguez bergerak cepat menghapus kebijakan minyak nasionalis yang selama ini menghambat investor. Langkah ini diambil guna memikat kembali perusahaan migas raksasa, terutama dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Mengapa AS Kepincut Minyak Venezuela, Apa Istimewanya?
“Kebijakan ini bergerak ke arah yang positif, namun masih butuh banyak perbaikan. Mungkin belum cukup untuk mendatangkan tingkat investasi yang diinginkan,” ujar Wirth seperti dilansir Bloomberg.
Seperti diketahui Presiden Donald Trump kini gencar mendorong pemulihan produksi di Venezuela guna meredam lonjakan harga energi di dalam negeri. Wirth mengakui bahwa peningkatan produksi di sana akan sangat membantu keandalan pasokan energi di Amerika Serikat yang saat ini tertekan oleh konflik di Timur Tengah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539311/original/052724700_1774596281-image-smiling-asian-girl-finish-homework-work-laptop-looking-pleased-result-computer.jpg)
















































