loading...
Saat puasa, tubuh berisiko alami hipoglikemia. Foto: Istimewa
JAKARTA - Berpuasa berarti tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Bagi sebagian orang, hal ini bisa meningkatkan risiko hipoglikemia atau gula darah turun drastis.
Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun di bawah 70 mg/dL. Glukosa sendiri adalah sumber energi utama tubuh, terutama bagi otak.
Jika kadarnya terlalu rendah, tubuh bisa mulai menunjukkan gejala yang cukup mengganggu, bahkan berbahaya jika tidak ditangani. Selama puasa, tubuh menggunakan cadangan energi yang tersimpan.
Baca Juga : Waspada Kurma Israel Ganti Kemasan! Ini Panduan Beli Kurma Agar Tak Tertipu
Jika sahur terlalu sedikit, melewatkan sahur, konsumsi karbohidrat sangat minim, hingga aktivitas fisik terlalu berat di siang hari, maka kadar gula darah bisa turun lebih cepat. Apalagi bagi orang dengan diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah atau mereka yang makan tidak teratur dan memiliki gangguan hati.
Gejala hipoglikemia bisa muncul tiba-tiba dan sering terasa seperti “drop” mendadak seperti gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, pusing, lemas, lapar hebat hingga terparah sampai pingsan. Jika gejala muncul saat puasa dan terasa signifikan, ini bukan sekedar lapar biasa tetapi bisa jadi tanda gula darah terlalu rendah.
Baca Juga : Selain Air Putih, Ini 7 Minuman Terbaik untuk Cegah Dehidrasi Saat Puasa


















































