loading...
Citra Nur Ramadhani. Foto/Binti Mufarida.
JAKARTA - Mengenakan baju Bodo khas Sulawesi Selatan lengkap dengan pernak-pernik aksesori, Citra Nur Ramadhani (10) tampil berbeda dari kesehariannya. Senyum kecil sesekali mengembang di wajahnya saat menceritakan pengalaman berharga yang dialami.
Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 67 Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan itu baru saja menyaksikan langsung pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara II DPR/MPR RI, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Pidato Kenegaraan 2026: Prabowo Targetkan Semua Sekolah Selesai Renovasi pada 2029
Momen Citra Bertemu Prabowo dan Namanya Disebut di Sidang MPR
Tak disangka, namanya disebut secara khusus oleh Presiden Prabowo di hadapan para peserta sidang. Citra dikenalkan sebagai salah satu siswa Sekolah Rakyat yang memiliki kisah perjuangan dan berhasil menorehkan prestasi.
Dia pun sangat berbahagia hari ini lantaran dapat bertemu langsung Presiden. “Senang banget karena barusan ketemu Bapak Presiden.”
Baca juga: Prabowo: Setiap Sekolah Akan Dapat Tambahan 3 Layar Pintar Interaktif
Bagi anak berusia 10 tahun itu, kesempatan bertemu Presiden menjadi pengalaman yang membekas. Apalagi, Presiden Prabowo sempat menyampaikan apresiasi atas perjuangannya yang hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang. “Terima kasih, Bapak Presiden,” ucapnya dengan wajah berbinar.
Ia juga menyampaikan pesan sederhana kepada Kepala Negara. “Pak Presiden sehat-sehat ya. Tunggu saya dewasa nanti pakai sabuk hitam.”
Perjuangan Hidup Citra, Dari Kehilangan Ayah hingga Berjualan Kacang
Jauh sebelum mengenakan seragam Sekolah Rakyat dan berdiri di hadapan Presiden, keseharian Citra tidak jauh dari perjuangan membantu keluarga.
Citra berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas. Ayahnya telah meninggal dunia ketika ia masih duduk di kelas 2 SD. Sementara sang ibu, Hajrah, merupakan orang tua tunggal yang bekerja serabutan. Ia menghidupi keluarga denganmembersihkan dan menyapu masjid juga menyambi sebagai buruh cuci harian.
Baca juga: Cerita Ismi Ulfaida, Siswa Sekolah Rakyat yang Terpilih Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
Melihat kondisi sang ibu, Citra berusaha ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bahkan berjualan kacang secara berkeliling di sejumlah lokasi di Kota Pangkep.
“Bantu Mama,” jawab Citra ketika ditanya mengenai kegiatannya sebelum masuk Sekolah Rakyat.
Kacang yang dijualnya diperoleh dari tetangga yang memiliki usaha. Citra kemudian menjajakannya di sekitar taman kota hingga sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Dalam sehari, ia dapat memperoleh omzet sekitar Rp200 ribu.
Menurut Wali Asuh SRT 67 Pangkep, Maysaroh Abdi Gobel, keputusan Citra untuk ikut berjualan muncul dari keinginannya membantu sang ibu.

















































