loading...
Pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta tingginya arus informasi mengubah banyak pola kehidupan manusia, termasuk anak dan remaja. Foto/Istimewa.
JAKARTA - Pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta tingginya arus informasi mengubah banyak pola kehidupan manusia, termasuk anak dan remaja. Mereka pun tumbuh di tengah tekanan akademik, sosial, dan emosional yang makin kompleks.
Dalam konteks ini peran sekolah dewasa ini ikut berubah. Pendidikan tidak lagi tentang pencapaian nilai akademik, tetapi perlu menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Baca juga: Pendaftaran SNMB MAN Unggulan 2026 Dibuka, Ini Daftar Lengkap Madrasahnya
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menilai perlu adanya penyesuaian cara pandang dalam melihat tujuan pendidikan. Jika selama ini tolok ukur kesuksesan siswa ditentukan oleh nilai, kini standar tersebut tidak lagi relevan.
“Anak dianggap sukses di sekolah bukan sekadar saat dia meraih nilai A, tetapi ketika mereka akhirnya mampu menghadapi situasi sulit, beradaptasi dengan perubahan, mengelola emosi, serta memandang tantangan sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh,” ujar Ezra, melalui siaran pers, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa ketangguhan (resilience) dan fleksibilitas (adaptability) perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang nyata, baik di sekolah maupun di rumah.

















































