Fenomena Lipstick Effect: Sinyal Bahaya Ekonomi RI?

3 hours ago 13

loading...

Faozan Amar, Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA. Foto/SIndoNews

Faozan Amar
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA

DI tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya kehati-hatian finansial rumah tangga, muncul fenomena menarik yang dikenal sebagai lipstick effect. Istilah yang dipopulerkan oleh Leonard Lauder, Chairman Estée Lauder pada 2001 ini menggambarkan kecenderungan psikologis konsumen untuk tetap mengalokasikan uangnya pada barang-barang tersier berskala kecil yang memberikan kepuasan emosional instan, meskipun kondisi finansial sedang tertekan.

Ketika keputusan membeli aset besar seperti rumah, kendaraan, atau barang elektronik harus ditunda, masyarakat justru mempertahankan belanja untuk produk terjangkau seperti kosmetik, kopi kekinian, perawatan diri, hingga langganan hiburan digital.

Fenomena ini kian nyata di Indonesia. Laporan Survei Konsumen Bank Indonesia (Juni 2026) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 123,4. Angka ini mencerminkan kondisi optimis, namun menyimpan pergeseran alokasi pengeluaran yang signifikan. Porsi pendapatan untuk konsumsi harian dan personal care tetap stabil, sementara porsi tabungan serta alokasi investasi barang modal cenderung menurun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) mempertegas realitas tersebut dengan mencatat bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung utama Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi sebesar 53,08 persen. Maknanya, masyarakat tidak menghentikan arus belanjanya secara total, melainkan melakukan diversifikasi rasional dengan mengalihkan preferensi pada produk terjangkau yang menawarkan efek psikologis positif.

Sinyal Dini dan Pergeseran Nilai Konsumen

Read Entire Article
Prestasi | | | |