loading...
Kepala IATA Willie Walsh. Foto/anadolu
MONTREAL - Kepala Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan krisis bahan bakar jet saat ini tidak sebesar pandemi COVID-19, karena permintaan untuk penerbangan “terus kuat”. Peringatan itu seiring gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Kekhawatirannya adalah potensi kekurangan selama periode puncak musim panas di belahan bumi utara,” kata Willie Walsh.
Dia menambahkan bahwa kekurangan bahan bakar jet akan melanda Asia terlebih dahulu, kemudian Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
“Tidak mungkin maskapai penerbangan dapat menyerap peningkatan biaya yang sangat besar, [itu] pasti diteruskan [kepada konsumen]. [Penjatahan] bahan bakar di Asia dan Eropa dapat menyebabkan beberapa pembatalan penerbangan,” papar dia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Senin mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz di tengah perundingan perdamaian AS-Iran yang terhenti, lapor Anadolu.
“Saya mengimbau para pihak: Buka Selat. Biarkan kapal lewat. Tidak ada tol. Tidak ada diskriminasi. Biarkan perdagangan dilanjutkan. Biarkan ekonomi global bernapas,” ujar Guterres dalam debat tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB tentang keamanan maritim.
Selat Hormuz—yang dilalui sekitar seperlima dari minyak dan gas alam cair global—telah menghadapi gangguan besar sejak awal Maret setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489013/original/017536600_1769776656-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_1.40.19_PM.jpeg)





