loading...
Listya Endang Artiani, Ekonom Universitas Islam Indonesia. Foto/Dok. SindoNews
Listya Endang Artiani
Ekonomi Universitas Islam Indonesia
FLUKTUASI tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menegaskan satu hal penting, yaitu pasar keuangan sedang menunggu kepastian kebijakan. Rebound indeks diakhir pekan belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya kepercayaan, melainkan jeda sementara di tengah proses evaluasi ulang risiko makroekonomi oleh investor.
Pada penutupan perdagangan Jumat (30/1/2026), IHSG menguat 1,18% ke level 8.329,61 setelah dua hari sebelumnya tertekan tajam hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Meski penguatan ini disertai naiknya ratusan saham, volatilitas yang masih tinggi menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya kembali ke posisi optimistis. Investor masih bersikap selektif dan defensif, menunggu kejelasan arah kebijakan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Fluktuasi IHSG kali ini tidak berdiri sendiri. Tekanan pasar dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari kekhawatiran atas transparansi pasar modal hingga potensi perubahan status Indonesia dalam indeks pasar negara berkembang. Di sisi domestik, perhatian investor tertuju pada dinamika kebijakan makro, termasuk perubahan pejabat strategis dan implikasinya terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal.
Sejumlah indikator makro menunjukkan meningkatnya kehati-hatian pasar. Nilai tukar rupiah sempat bergerak 26-30 Januari dikisaran Rp16.723-16.801 per USD, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun cenderung meningkat.
Pergerakan ini mencerminkan naiknya premi risiko yang diminta investor terhadap aset keuangan domestik. Dalam konteks tersebut, penguatan IHSG lebih mencerminkan respon teknikal jangka pendek dibanding perubahan sentimen fundamental.

















































