loading...
Nono Suwarno, Co-Founder Ruang Gerak. Foto/Dok.Pribadi
Nono Suwarno
Co-Founder Ruang Gerak
TERPILIHNYA KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34 di Lampung tahun 2021 silam sempat menyulut optimisme besar. Sebagai figur relatif muda dan artikulatif, Gus Yahya digadang-gadang membawa angin segar bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama. Janjinya mulia dan menggugah: “membumikan pemikiran Gus Dur” di bawah panji kepengurusan bertajuk “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”.
Namun, setelah lima tahun bahtera PBNU dikemudikan, janji indah itu kian terasa seperti fatamorgana. Bukannya membawa kapal besar NU melayari samudra peradaban atau berdiri tegak sebagai benteng civil society, narasi yang diusung justru terantuk pada turbulensi politik yang tidak produktif. Janji membumikan Gus Dur pun perlahan menguap, tergantikan oleh pragmatisme kekuasaan yang riuh.
Alarm Evaluasi dari Bandung
Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, nyaringnya alarm evaluasi kepemimpinan makin tak terelakkan. Dalam forum National Leadership Academy (NLA) Lecture Series #1 di Bandung yang membedah jejak keteladanan pemimpin NU dari masa ke masa, para pakar dan akademisi mencatat adanya disorientasi serius dalam tubuh PBNU hari ini.
Pakar politik Prof Burhanuddin Muhtadi merumuskan fenomena ini dengan sangat menohok: “Too much Idham Chalid, no Gus Dur.”
PBNU saat ini dinilai terlalu sarat dengan kalkulasi politik akomodatif pragmatis ala KH Idham Chalid, namun di saat bersamaan kehilangan jiwa intelektual organik, daya kritis, serta keberanian moral yang menjadi legacy utama Gus Dur.


















































