Krisis Mata Uang, Iran Diguncang Protes Massal

1 month ago 38

loading...

Nilai tukar mata uang rial Iran jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. FOTO/Aljazeera

JAKARTA - Gelombang protes massal dan aksi mogok kerja melumpuhkan sebagian besar wilayah Iran selama dua hari berturut-turut hingga Senin waktu setempat. Situasi ini dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang rial ke level terendah sepanjang sejarah, yang seketika mengubah keresahan ekonomi menjadi demonstrasi anti-pemerintah secara luas. Kondisi yang kian tidak terkendali di pusat kota memaksa aparat keamanan menetapkan status keadaan darurat untuk wilayah Teheran.

Baca Juga: Netanyahu Ingin Menyerang Iran, Trump Menentangnya

Dikutip dari iranintl, kerusuhan bermula pada Minggu saat nilai dolar AS melonjak hingga menyentuh angka 144.000 toman di pasar bebas. Kondisi ini memicu para pedagang di Pasar Agung Teheran yang bersejarah untuk menutup toko mereka dan turun ke jalan sebagai bentuk protes. Aksi mogok kerja ini dengan cepat menjalar dari Pulau Qeshm di wilayah selatan hingga Hamadan di utara, mencerminkan kemarahan kolektif masyarakat atas hancurnya daya beli mereka.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengakui bahwa negaranya saat ini sedang berada dalam kondisi tekanan hebat dari pihak luar. "Negara kita sedang berada dalam situasi perang total dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa. Mereka ingin membuat bangsa kita berlutut melalui tekanan ekonomi yang jauh lebih rumit daripada masa Perang Iran-Irak tahun 1980-an," ujar Pezeshkian dalam wawancara resmi yang dikutip dari laman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Read Entire Article
Prestasi | | | |