Mengapa BYD, Airbus, hingga Foxconn Nekat Pakai Robot yang Lebih Lambat dari Manusia? Ini Alasannya!

1 week ago 15

loading...

Robot humanoid Walker S2 buatan UBTech saat diuji coba bekerja di lini perakitan pabrikan mobil Zeekr. Foto: UBTech

CHINA - Pengakuan mengejutkan datang dari raksasa teknologi Shenzhen, UBTech. Mereka blak-blakan menyebut efisiensi robot humanoid tercanggih mereka saat ini maksimal hanya mencapai separuh dari kemampuan pekerja manusia.

Tapi, fakta ini nyatanya tak menyurutkan gelombang pesanan dari manufaktur global yang berlomba menghindari ketertinggalan teknologi.

Michael Tam, Chief Brand Officer UBTech, menyebut mereka telah menjalin kemitraan strategis dengan pembuat mobil BYD dan kontraktor utama Apple, Foxconn.

Dan Tam sadar bahwa robot andalan mereka, Walker S2, saat ini hanya memiliki tingkat produktivitas 30 hingga 50 persen jika dibanding tenaga kerja manusia.

Efisiensi terbatas ini pun hanya berlaku pada tugas-tugas spesifik, seperti menumpuk kotak dan kontrol kualitas.

Namun, di balik angka efisiensi yang tampaknya rendah itu, tersimpan logika pasar yang memaksa para pelaku industri untuk bergerak cepat.

Tam menjelaskan kepada Financial Times bahwa fenomena ini didorong oleh kekhawatiran kompetitif. "Anda bisa membayangkan, jika Tesla memiliki keuntungan dengan mengerahkan robot manusia mereka sendiri ke dalam jalur manufaktur, itu berarti mungkin BYD akan tertinggal," ujarnya.

Ada pertaruhan besar bahwa adopsi dini, meskipun belum sempurna, adalah kunci penguasaan pasar masa depan.

Peta Kekuatan dan Tantangan Teknis

China, sebagai poros manufaktur dunia, telah melemparkan dukungan penuh kebijakan di belakang industri robot humanoid.

Data Federasi Robotika Internasional mencatat bahwa negara ini menyumbang lebih dari setengah instalasi global robot industri pada tahun 2024.

Read Entire Article
Prestasi | | | |