loading...
Pelaku usaha kini cenderung bersikap wait and see dengan mempertimbangkan secara matang risiko yang bisa ditanggung pemerintah dan potensi imbal hasil (return) sebelum mengambil keputusan investasi. Foto/Dok
JAKARTA - Minat investor terhadap proyek infrastruktur , khususnya jalan tol di Indonesia, dinilai masih cukup tinggi di tengah ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah. Namun demikian, pelaku usaha kini cenderung bersikap wait and see dengan mempertimbangkan secara matang risiko yang bisa ditanggung pemerintah dan potensi imbal hasil (return) sebelum mengambil keputusan investasi.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Willan Oktavian, mengatakan sejumlah proyek jalan tol masih menunjukkan indikasi ketertarikan investor. Beberapa di antaranya bahkan telah memasuki tahap pengajuan prakarsa maupun persiapan tender.
"Kalau dilihat sekarang, tol Puncak masih ada yang mengajukan prakarsa. Kemudian ruas Sentul–Karawang juga dalam waktu dekat akan ditenderkan. Kita akan lihat nanti peminatnya seperti apa," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian PU, Kamis (3/4).
Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Era Prabowo Butuh Uang 3 Kali Lipat dari Periode Jokowi
Selain itu sejumlah proyek strategis lain seperti ruas Cilacap, Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci), hingga Gilimanuk–Mengwi juga masih dalam tahap penyiapan dan tetap menarik perhatian pasar.
Meski demikian, Willan mengakui investor saat ini tidak lagi mengambil keputusan secara agresif. Mereka cenderung melakukan kalkulasi lebih dalam, terutama terkait pembagian risiko antara pemerintah dan badan usaha. Apa saja risiko yang bisa ditanggung pemerintah, dan mana yang menjadi tanggungan badan usaha.


















































