Rakyat Tertipu Beras Fortifikasi, Amran: Katanya Bervitamin Ternyata Tidak

4 hours ago 9

loading...

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menemukan sebanyak 93% sampel beras fortifikasi yang diuji laboratorium tidak memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku. Temuan tersebut merupakan hasil pengawasan terhadap 178 sampel beras fortifikasi di 11 provinsi.

"Masalahnya adalah sementara kita selidiki, tapi sesuai hasil lab, 93% yang kita cek fortifikasi melanggar. Bayangkan itu disampaikan bahwa fortifikasi ini beras bervitamin, ternyata tidak ada," ujar Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: Persoalan Struktural Kenapa Harga Beras Naik Terus

Amran mengatakan hasil pengujian menunjukkan sebagian besar produk yang mengklaim sebagai beras fortifikasi tidak memenuhi persyaratan kandungan gizi. Ia menilai kondisi tersebut serius karena produk beras fortifikasi umumnya dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan beras biasa. "Katakanlah harganya Rp13.500, dijual dengan harga Rp40.000. Kasihan ini konsumen," tegasnya.

Menurut Amran, apabila produk yang mencantumkan klaim fortifikasi dijual dengan harga jauh lebih tinggi tetapi tidak memenuhi kandungan gizi yang dipersyaratkan, konsumen berpotensi mengalami kerugian ekonomi. "Bayangkan per kilo selisih Rp22.000 atau Rp20.000 ini bukan harga keuntungan, tapi penipuan," ujarnya.

Selain kandungan gizi, Bapanas menemukan persoalan dalam pelabelan. Sejumlah produk hanya mencantumkan dua jenis zat gizi pada kemasan, meskipun dipasarkan dengan klaim sebagai beras yang diperkaya zat gizi.

Read Entire Article
Prestasi | | | |