loading...
Api menyembur dari menara pembakar di ladang minyak Nahr Bin Umar, sebelah utara Basra, Irak, pada 16 September 2019. FOTO/Reuters/Essam Al-Sudan
LONDON - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan kekurangan pasokan minyak global pada 2026 diperkirakan semakin parah karena pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum terlihat. Lembaga yang berbasis di Paris itu memangkas proyeksi pasokan minyak dunia menjadi 102,02 juta barel per hari (bph) turun 4,3 juta bph atau sekitar 4% dari tahun sebelumnya.
"Pasokan minyak global telah turun jauh di bawah permintaan akibat penutupan Selat Hormuz, blokade AS terhadap ekspor Iran, serangan di Selat Bab el-Mandeb, serta penurunan ekspor Kazakh CPC Blend," kata IEA dalam laporan bulanan dikutip dari Reuters, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Penerimaan Migas Seret, Defisit Anggaran Rusia Bengkak 32,3% Tembus Rp1.411 Triliun
Penurunan pasokan ini lebih dalam dibandingkan proyeksi Juli lalu diperkirakan kontraksi 3,7 juta bph. Akibatnya, defisit pasar minyak global pada 2026 diperkirakan mencapai 1,27 juta bph melebar dari 860.000 bph pada proyeksi sebelumnya.
IEA kini memperkirakan permintaan minyak global akan terkontraksi 1,6 juta bph tahun ini, lebih dalam dari perkiraan bulan lalu yang sebesar 1 juta bph. Kontraksi ini dipicu oleh keterbatasan pasokan bahan bakar olahan dan harga yang lebih tinggi, dengan produk naphtha dan gasoil menjadi yang paling terpukul, terutama di Asia dan Timur Tengah.
Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) masih memproyeksikan permintaan minyak tumbuh 580.000 bph pada 2026, meski lebih rendah 200.000 bph dari perkiraan sebelumnya. Perbedaan pandangan antara IEA dan OPEC ini mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar energi global.

















































