Subsidi Energi dan Kompensasi Bisa Tembus Rp700 Triliun, Bagaimana Kondisi APBN?

1 day ago 26

loading...

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, konflik geopolitik yang mengerek harga energi global bisa memicu tekanan fiskal untuk pembayaran kompensasi dan subsidi energi di tanah air. Foto/Dok

JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, konflik geopolitik yang mengerek harga energi global bisa memicu tekanan fiskal untuk pembayaran kompensasi dan subsidi energi di tanah air. Saat ini kompensasi dan subsidi energi setiap tahunnya tembus sekitar Rp400 triliun.

Namun dampak geopolitik akan membuat rantai pasok ketersediaan energi global terhambat. Hal ini melihat ketegangan antara Amerika dan Iran, Ukraina dan Rusia yang hingga saat ini belum ada tanda mereda.

Kondisi tersebut diperkirakan bakal membuat subsidi dan kompensasi energi meningkat Rp300 triliun, sehingga totalnya bisa tembus Rp700 triliun. Baca Juga: Subsidi Energi 2027 Bengkak Jadi Rp272,9 Triliun, ESDM Singgung Pelemahan Rupiah

"ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi dari 400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun," ujarnya dalam acara EBTKE Conex di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9/2026).

Kenaikan harga energi, lanjut Yuliot, tidak hanya berdampak terhadap harga bahan bakar, tetapi juga berimbas pada biaya produksi dan inflasi. Bagi Indonesia, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM), listrik, dan LPG.

Read Entire Article
Prestasi | | | |